KabarPojokIndonesia.com -- MALANG – Menteri Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia, Dr. (H.C.) Zulkifli Hasan, S.E., M.M., melakukan kunjungan kerja ke Pondok Pesantren (PP) Raudlatul Ulum 2, Jl. Sunan Ampel No.02b, Putuk Utara, Putukrejo, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang, Kamis (12/02/2026) siang.
Dalam kunjungan tersebut, Menko Pangan didampingi Bupati Malang Sanusi, Sekretaris Daerah Kabupaten Malang Dr. Ir. Budiar, M.Si., jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Kabupaten Malang, serta disambut langsung oleh Pengasuh PP Raudlatul Ulum 2, KH Hamim Kholili.
Dalam sambutannya yang dikemas santai dan interaktif, Zulkifli Hasan mengajak para santri dan santriwati untuk berani tampil serta memiliki rasa ingin tahu yang tinggi.
“Kenapa ada yang jadi bupati, ada yang jadi menteri, ada yang jadi camat, tentara, polisi? Padahal dulunya sama-sama siswa SMP, SMA. Kenapa bisa beda?” tanya Zulkifli Hasan di hadapan ratusan santri.
Ia kemudian menyinggung jumlah penduduk Kabupaten Malang yang mencapai lebih dari 2,7 juta jiwa. Dari jumlah tersebut, hanya satu orang yang menjadi bupati. “Kenapa yang jadi bupati cuma satu? Karena berani maju. Yang 2,7 juta lainnya tidak maju. Jadi beda orang yang berani dengan yang tidak berani,” tegasnya.
Menko Pangan lalu meminta dua santri untuk maju ke depan. Ia menekankan bahwa keberanian adalah pembeda utama, bukan semata-mata kepintaran. “Banyak yang pintar, tapi tidak berani. Yang berani maju, dia selangkah lebih dulu,” ujarnya disambut tepuk tangan para santri.
Sebagai bentuk apresiasi, santri yang berani maju dan mampu menjawab pertanyaan mendapatkan hadiah satu unit tablet dan uang tunai sebesar Rp1 juta.
Uji Logika Lewat Pertanyaan Sederhana
Tak hanya soal keberanian, Zulkifli Hasan juga menguji logika para santri melalui pertanyaan sederhana seputar kehidupan sehari-hari, seperti alasan harga cabai di pasar lebih mahal dibandingkan di petani.
“Kalau di petani harganya Rp10 ribu, di pasar jadi Rp30 ribu. Kenapa?” tanyanya.
Seorang santri menjawab karena adanya biaya distribusi dan transportasi. Jawaban tersebut diapresiasi karena menunjukkan logika berpikir yang berjalan baik.
Ia juga mengangkat persoalan naik turunnya harga cabai yang dipengaruhi faktor cuaca dan musim. Menurutnya, solusi seperti penggunaan greenhouse dapat menjadi langkah mengatasi ketergantungan terhadap musim.
“Yang saya tes bukan hafalan, tapi logikanya. Orang yang logikanya jalan, bisa jadi bupati, bisa jadi menteri,” katanya.
Menko Pangan juga memotivasi santri agar tidak minder sebagai lulusan Madrasah Aliyah (MA). Ia bahkan menyebut pendidikan madrasah memiliki keunggulan karena memadukan pelajaran agama dan umum.
“Jangan minder. Madrasah Aliyah itu hebat, karena belajar agama dan pelajaran umum,” ujarnya memberi semangat.
Sementara itu, Pengasuh PP Raudlatul Ulum 2, KH Hamim Kholili, menjelaskan bahwa kunjungan Menko Pangan dilakukan dalam rangka meninjau perkembangan program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta Koperasi Desa (Kopdes) di wilayah Malang Raya.
“Tadi malam kami mendapat informasi beliau ke Malang untuk melihat perkembangan MBG dan Kopdes di Kabupaten Malang, Kota Malang, dan Batu. Beliau juga ingin memastikan apakah santri sudah menerima MBG dan bagaimana kualitasnya,” jelas KH Hamim.
Menurutnya, program MBG di pesantren berjalan baik dan mendapat respons positif dari para santri. Saat ini jumlah santri dan mahasiswa di PP Raudlatul Ulum 2 mencapai lebih dari seribu orang.
Namun demikian, ia berharap perhatian pemerintah terhadap pesantren tidak setengah-setengah.
“Kalau sekolah formal sudah hampir 100 persen, pesantren jangan sampai hanya 20 persen. Harus disejajarkan. Kami berharap Undang-Undang Pesantren bisa dimaksimalkan pelaksanaannya,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya standarisasi dan pengawasan dalam pelaksanaan program MBG agar tidak terjadi penyimpangan di lapangan.
“Program ini niatnya sangat baik, untuk meningkatkan gizi dan kecerdasan generasi ke depan. Jangan sampai di bawah justru jadi tidak maksimal,” ujarnya.
KH Hamim menyambut positif program pemerintah yang dinilainya berpihak pada rakyat kecil, termasuk melalui Kopdes untuk menggerakkan ekonomi desa.
Kunjungan Menko Pangan diakhiri dengan doa bersama serta harapan agar para santri kelak menjadi generasi unggul yang berani, cerdas, dan berkontribusi bagi bangsa.
“Doa Pak Kiai, doa Bupati, doa kami semua, semoga anak-anakku sekalian sukses menggapai cita-cita,” pungkas Zulkifli Hasan.
Reporter : Matnadir
Editor : Redaksi



