Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Panen Perdana Padi Unggul HKTI, Produktivitas Sawah Kabupaten Malang Naik 40 Persen

Rabu, 07 Januari 2026 | Januari 07, 2026 WIB Last Updated 2026-01-07T16:46:35Z

KabarPojokIndonesia.com
-- MALANG – Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten Malang menggelar Panen Perdana Padi Unggul di area persawahan Desa Tanggung, Kecamatan Turen, Rabu (07/01/2026). Kegiatan yang berlangsung sejak pagi hingga menjelang sore ini menjadi bukti nyata komitmen peningkatan ketahanan pangan dan kesejahteraan petani di Kabupaten Malang.

Acara panen tersebut dihadiri langsung oleh Bupati Malang Drs. H. M. Sanusi, M.M., jajaran HKTI, kelompok tani, serta berbagai pemangku kepentingan sektor pertanian. Dalam kesempatan itu, Bupati Malang menyampaikan optimismenya terhadap peningkatan produktivitas padi melalui inovasi bibit unggul dan intensifikasi pertanian.

“Saat ini rata-rata hasil panen padi berada di kisaran 7–8 ton per hektare. Dengan inovasi yang kita lakukan, termasuk penggunaan bibit unggul, kita targetkan bisa mencapai 12 ton per hektare. Artinya ada kenaikan sekitar 40 persen,” ujar Sanusi saat diwawancarai media Kabar Pojok Indonesia.

Menurutnya, luas lahan baku sawah di Kabupaten Malang yang mencapai sekitar 43.000 hektare hingga kini masih terjaga dengan baik. Hal tersebut menjadi modal penting dalam mendukung program ketahanan dan swasembada pangan, baik di tingkat daerah maupun nasional.

Bupati juga menyinggung soal efisiensi biaya produksi pertanian. Dari anggaran produksi yang mencapai Rp480.000 per ton, penggunaan efektif berada di angka Rp400.000 per ton, sehingga terdapat selisih efisiensi sekitar Rp80.000 per ton. “Ini yang terus kita dorong melalui inovasi dan pengelolaan pertanian yang lebih baik,” tambahnya.

Bibit padi unggul yang digunakan dalam panen perdana ini dikenal dengan nama Bintik Nusukma, yang dikembangkan melalui riset dan uji coba berkelanjutan. Selain itu, penerapan pertanian ramah lingkungan juga menjadi perhatian, termasuk penggunaan rumah burung hantu sebagai pengendali hama tikus secara alami.

“Setiap hektare sawah disiapkan dua pasang burung hantu. Satu pasang burung hantu menelan biaya sekitar Rp5 juta. Program ini dilaksanakan secara bertahap dan terbukti efektif menekan serangan hama tikus. Insya Allah, Kabupaten Malang terus meningkatkan kontribusinya dalam mendukung swasembada pangan nasional,” jelas Sanusi.

Sementara itu, Ketua DPC HKTI Kabupaten Malang H. Makhrus Sholeh menegaskan bahwa keberhasilan panen ini merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak. HKTI, kata dia, akan terus mendorong sinergi antarpetani dan antarwilayah.

“Kita akan mengembangkan dan menduplikasi pola yang telah berhasil ini ke lahan-lahan lain. Prinsipnya adalah amati, tiru, dan modifikasi (ATM). Keberhasilan di satu wilayah harus menjadi pembelajaran bagi wilayah lainnya,” ungkapnya.

Makhrus juga menyebutkan empat fokus utama program HKTI ke depan, yakni penggunaan bibit unggul, perbaikan pengairan, peningkatan pengolahan pascapanen, serta penguatan pemasaran hasil pertanian. Keempat aspek tersebut akan direalisasikan melalui kolaborasi dengan para pemangku kepentingan di seluruh kecamatan di Kabupaten Malang.

Panen perdana ini diperkirakan menghasilkan hingga 12 ton padi, dengan kualitas beras yang dihasilkan mendekati standar organik. Capaian tersebut semakin mengukuhkan posisi Kabupaten Malang sebagai salah satu daerah penyangga pangan terbaik di tingkat nasional.

Reporter : Matnadir 

Editor : Redaksi
TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update