KabarPojokIndonesia.com -- MALANG — Gerakan besar untuk membangun budaya suporter yang lebih dewasa, cerdas, dan berdaya secara ekonomi mengemuka dalam Seminar Interaktif “Revolusi Mental Suporter: Dari Kurikulum Dini hingga Sinergi Ekonomi Berkelanjutan” yang digelar BEM Malang Raya di Pendopo Agung Kabupaten Malang, Jl. Merdeka Timur No. 3, Klojen, Kota Malang, Kamis (27/11/2025).
Acara berlangsung meriah dan penuh antusiasme, dihadiri perwakilan Forkopimda Kabupaten Malang, Kadispora, unsur TNI/Polri, organisasi mahasiswa, komunitas suporter, serta perwakilan 26 kampus di Malang Raya, termasuk Unisma, UMM, Polinema, dan lainnya.
Koordinator BEM Malang Raya, Moh. Fauzi, menegaskan bahwa seminar ini menjadi langkah awal pembenahan mentalitas suporter sejak usia dini.
“Tujuannya untuk membangun generasi suporter baru yang mampu berdaya saing di area tribun. Tidak hanya soal rivalitas, tetapi pendewasaan sejak dini,” ujar Fauzi.
Ia bahkan menyampaikan rencana untuk merekomendasikan program ini kepada Kemendikbud, agar pembinaan suporter dapat dipertimbangkan masuk dalam kurikulum atau kegiatan ekstrakurikuler sekolah.
“Pembenahan supporter itu tidak bisa hanya di level dewasa. Anak-anak sejak SD harus mendapatkan pembekalan. Ini yang selama ini kurang,” tegasnya.
Menurut Fauzi, kegiatan ini juga menjadi ruang edukasi bagi suporter muda untuk memahami identitas klub, etika tribun, dan manajemen rivalitas.
Seminar ini diikuti berbagai kelompok suporter, termasuk Aremania, komunitas Malang Raya, dan mahasiswa lintas kampus.
“InsyaAllah dihadiri 26 kampus. Ada Unisma, UMM, Polinema, dan lainnya. Semua hadir untuk mendukung pembenahan budaya suporter,” jelas Fauzi.
Menutup sesi, Moh. Fauzi menyampaikan harapannya agar kegiatan ini menjadi titik awal revolusi mental suporter di Indonesia.
“Harapan kami, kegiatan ini mendapat atensi dari Kemendikbud dan menjadi gerakan nasional. Kami ingin pembelajaran supporteritas tidak hanya di ruang terbuka, tetapi masuk ke bangku sekolah,” ujarnya.
Ia berharap sinergi antara grassroots, kampus, komunitas suporter, Forkopimda, hingga PSSI dapat menciptakan ekosistem sepakbola yang aman, edukatif, dan berkelanjutan.
Sementara itu, Ketua Panitia Pelaksana, Tely, menekankan pentingnya perubahan paradigma dalam pembinaan suporter. Selama ini, isu suporter selalu berkaitan dengan kerusuhan, denda, dan sanksi.
Ia menawarkan konsep terobosan bernama:
“Suporter Bermartabat = Suporter Untung”
Konsep ini menuntut adanya kebijakan baru yang adil dan memberi manfaat langsung kepada suporter yang tertib.
“Kami merekomendasikan agar uang denda disiplin klub dialihkan menjadi subsidi tiket bagi suporter yang berkelakuan baik,” jelasnya.
Tely menegaskan bahwa definisi “Suporter Bermartabat” harus jelas dan terukur:
Terdata dalam database klub (Single ID)
Memiliki rekam jejak nihil sanksi selama satu musim.
Telah mengikuti edukasi suporter
“Jika suporter tertib, klub hemat biaya pengamanan dan bebas denda. Penghematan itu harus kembali ke suporter. Ini ekonomi berkelanjutan,” tegasnya.
Forum seminar menyepakati lima rekomendasi besar sebagai bahan masukan resmi bagi pemerintah pusat, PSSI, PT LIB, klub, dan wadah suporter:
1. Pemerintah
Integrasi kurikulum suporter di sekolah dan pembangunan stadion ramah anak.
2. PSSI
Penetapan regulasi baku “Indikator Suporter Bermartabat” dan pengalihan denda klub menjadi subsidi pembinaan suporter.
3. PT LIB
Penerapan smart ticketing berjenjang (subsidi) dan jadwal kick-off ramah pelajar.
4. Klub
Verifikasi database suporter (Know Your Customer) dan program Club Goes to School.
5. Wadah Suporter
Dorong legalitas badan hukum (koperasi/yayasan) untuk pengelolaan bisnis dan tiket yang transparan.
Apa yang dimulai di Pendopo Kabupaten Malang hari ini semoga menjadi bola salju perubahan untuk sepakbola Indonesia. Aremania siap menjadi contoh,” pungkasnya.
Reporter : Matnadir
Editor : Redaksi





