KabarPojokIndonesia.com -- MALANG – Pentingnya penguatan narasi pesantren sebagai pilar pendidikan bangsa ditegaskan oleh Masyfu’ Zuhdi, Dewan Pengasuh Pondok Pesantren (PP) PPAI Salafiyah Darun Najah, Sabtu (28/02/2026). Pernyataan tersebut disampaikan di lingkungan pesantren yang beralamat di Jl. Pesantren No. 51, Desa Ngijo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang.
Ulama yang akrab disapa Gus Masyfu’ itu menegaskan bahwa pesantren memiliki legitimasi historis sebagai lembaga pendidikan tertua dan orisinal di Indonesia.
“Pesantren ini pilar pendidikan yang lahir dari rahim bangsa sendiri. Ia sudah ada jauh sebelum sistem pendidikan modern berkembang seperti sekarang,” tegas Gus Masyfu’.
Pondok Pesantren PPAI Salafiyah Darun Najah berdiri sejak tahun 1969. Hingga kini, jumlah santri dan santriwati yang menempuh pendidikan mencapai kurang lebih 1.000 orang.
Menurut Gus Masyfu’, sejak berdiri lebih dari lima dekade lalu, pesantren ini telah meluluskan sekitar 8.000 alumni yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia, bahkan dari luar Pulau Jawa seperti Papua, NTT, Bali, Kalimantan, Lampung, hingga Madura.
“Mayoritas tokoh agama di wilayah Malang Raya, mulai dari guru langgar, imam masjid, hingga pengasuh pesantren di Kota Malang, banyak yang merupakan alumni Darun Najah,” ujarnya.
Dalam momentum Bulan Ramadhan, pesantren menerapkan program khusus yang dirancang untuk memperkuat spiritualitas dan kedisiplinan santri.
Kegiatan dimulai sejak dini hari. Para santri dibangunkan sekitar pukul 02.30 WIB untuk melaksanakan shalat tahajud, hajat, taubat, dan amalan sunnah lainnya secara berjamaah di masjid. Setelah sahur bersama, santri menunggu waktu Subuh dengan dzikir dan ibadah.
Usai shalat Subuh, santri tidak langsung kembali ke asrama, melainkan melanjutkan dengan membaca Al-Qur’an hingga sekitar pukul 05.15 WIB. Setelah istirahat singkat, mereka bersiap melaksanakan aktivitas pendidikan formal.
Selama Ramadhan, jam sekolah formal disesuaikan, yakni dimulai sekitar pukul 06.45 WIB hingga menjelang siang hari, dilanjutkan dengan shalat Dzuhur berjamaah.
“Ramadhan bukan bulan biasa. Ini momentum pembentukan karakter, disiplin, dan penguatan ruhiyah santri,” jelasnya.
Pesantren ini menyelenggarakan pendidikan formal dan diniyah secara terpadu. Untuk jenjang formal tersedia Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Aliyah (MA), SMP, dan SMA. Sementara pendidikan diniyah menekankan penguasaan kitab-kitab klasik.
Basis pembelajaran di Darun Najah adalah pemahaman kitab kuning secara mendalam. Santri baru menjalani masa persiapan selama dua tahun untuk pengenalan dasar-dasar ilmu alat dan kitab klasik seperti Safinatun Najah dan kitab-kitab dasar lainnya.
Target akhir pendidikan, menurut Gus Masyfu’, adalah santri mampu memahami dan menguasai kitab-kitab tingkat lanjut, sehingga saat lulus mereka memiliki kompetensi keilmuan yang matang.
“Anak pulang dari sini harus membawa kualitas. Iman dan takwanya kuat, ilmu pengetahuan dan teknologinya juga mumpuni,” tegasnya.
Dari sisi sarana dan prasarana, pesantren dilengkapi dengan asrama putra dan putri, ruang belajar formal, sekolah diniyah, aula, masjid, serta fasilitas pendukung lainnya.
Komposisi santri putra dan putri relatif seimbang, dengan total keseluruhan sekitar seribu santri. Beberapa unit pendidikan juga terpisah sesuai jenjang dan kebutuhan pembinaan.
Gus Masyfu’ menegaskan, misi utama pesantren tetap sejalan dengan cita-cita nasional, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun, lebih dari itu, pesantren bertujuan membentuk generasi yang berkarakter, berakhlak, serta mampu berkontribusi dalam kehidupan bermasyarakat.
“Kalau dalam konteks kenegaraan, ya mencerdaskan kehidupan bangsa. Tapi dalam praktiknya, kami ingin melahirkan anak-anak yang berkualitas, beriman kuat, dan mampu menghadapi tantangan zaman,” pungkasnya.
Reporter : Matnadir
Editor : Redaksi






