Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Ribuan Warga Tumpah Ruah, Bersih Desa Tangkilsari Hadirkan Cak Kirun, Kadir Srimulat dan Wayang Kulit Semalam Suntuk

Sabtu, 25 Juli 2026 | Juli 25, 2026 WIB Last Updated 2026-07-25T16:28:46Z

KabarPojokIndonesia.com
-- MALANG – Suasana semarak menyelimuti Desa Tangkilsari, Kecamatan Tajinan, Kabupaten Malang, Minggu (25/7/2026) malam. Ribuan warga dari berbagai penjuru desa memadati area depan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Tangkilsari untuk mengikuti rangkaian kegiatan Bersih Desa yang dikemas meriah dengan sentuhan budaya dan hiburan rakyat.

Acara diawali dengan mauidhoh hasanah yang disampaikan oleh seniman sekaligus dai kondang Romo Kirun (Cak Kirun). Kehadirannya semakin menghibur masyarakat karena didampingi pelawak legendaris Kadir Srimulat serta Joko Klenteng. Gelak tawa dan pesan-pesan moral berpadu menjadi hiburan yang sarat makna bagi masyarakat.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Camat Tajinan Franky Sukandari, S.STP., M.A.P., Kepala Desa Tangkilsari H. Sugiono, sejumlah kepala desa se-Kecamatan Tajinan, tokoh masyarakat, tokoh agama, serta ribuan warga yang antusias mengikuti acara hingga larut malam. Setelah tausiyah dan hiburan, acara dilanjutkan dengan pagelaran wayang kulit semalam suntuk yang dibawakan oleh Dalang Ki Muhadi Siswoko.

Camat Tajinan Franky Sukandari mengapresiasi Pemerintah Desa Tangkilsari yang mampu menghadirkan kegiatan budaya berskala besar sebagai bagian dari tradisi Bersih Desa sekaligus bentuk rasa syukur atas keberadaan Koperasi Desa Merah Putih di Tangkilsari.

"Tentu kami sangat mengapresiasi Pemerintah Desa Tangkilsari yang menghadirkan para seniman dan pegiat seni budaya seperti Pak Kirun, Pak Kadir, dan Joko Klenteng. Ini menjadi momentum yang luar biasa dalam rangka Bersih Desa sekaligus selamatan atas hadirnya KDMP di Desa Tangkilsari," ujar Franky kepada Kabar Pojok Indonesia.

Menurutnya, kegiatan tersebut bukan sekadar hiburan, tetapi juga menjadi media mempererat persatuan masyarakat sekaligus memperkuat kecintaan terhadap budaya lokal.

Franky berharap semangat kebersamaan yang tercipta dalam kegiatan Bersih Desa mampu membawa kesejahteraan bagi masyarakat serta mendorong pemerintahan desa yang semakin baik.

"Harapan kami, masyarakat semakin makmur, pemerintah desa semakin bersih, akuntabel, transparan, dan pelayanan publik semakin baik. Semua itu menuju tata kelola pemerintahan yang baik atau good governance," katanya.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga dan melestarikan budaya di tengah derasnya perkembangan teknologi dan era digital. Menurutnya, generasi muda tidak boleh kehilangan jati diri dan harus tetap mengenal warisan budaya leluhur.

"Nguri-nguri budaya harus terus digalakkan. Jangan sampai generasi muda tergerus oleh perkembangan zaman. Tradisi seperti Bersih Desa dan wayang kulit harus terus dilestarikan agar nilai-nilai budaya tetap hidup di tengah masyarakat," ungkapnya.

Franky menjelaskan, seluruh desa di Kecamatan Tajinan melaksanakan tradisi Bersih Desa setiap tahunnya dengan karakteristik dan kearifan lokal masing-masing.

"Semua 12 desa di Kecamatan Tajinan melaksanakan Bersih Desa dengan ciri khas dan adatnya masing-masing. Itu menjadi kekayaan budaya yang harus terus dijaga," jelasnya.

Di akhir wawancara, Franky kembali menegaskan komitmen Pemerintah Kecamatan Tajinan untuk terus mendorong pemerintahan desa memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.

"Pemerintah desa harus terus meningkatkan pelayanan publik yang mantap, bekerja secara akuntabel, transparan, serta terbuka kepada seluruh elemen masyarakat.

 Harapan kami, masyarakat semakin makmur dan Kecamatan Tajinan semakin maju sesuai jargon kami, 'Tajinan Juara', yaitu Tajinan Jujur, Unggul, Aman, Ramah, Amanah, dan Aktif," tegasnya.

Sementara itu, sejumlah warga mengaku sangat senang dengan kemeriahan Bersih Desa tahun ini. Selain menjadi ajang silaturahmi antarwarga, kehadiran Cak Kirun, Kadir Srimulat, serta pagelaran wayang kulit dinilai menjadi hiburan yang jarang ditemui.

Warga berharap tradisi Bersih Desa seperti ini terus dilestarikan karena mampu mempererat persaudaraan, menjaga nilai-nilai budaya Jawa, sekaligus menjadi hiburan yang mendidik bagi masyarakat dari berbagai kalangan.

Kemeriahan acara berlangsung hingga dini hari dengan ribuan penonton yang tetap bertahan menyaksikan pagelaran wayang kulit Ki Muhadi Siswoko. Antusiasme masyarakat menjadi bukti bahwa tradisi budaya masih memiliki tempat istimewa di hati warga Tanggilsari dan menjadi perekat kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat.

REPORTER : Matnadir 

EDITOR : Redaksi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update