KabarPojokIndonesia.com -- MALANG – Pondok Pesantren (PP) Ar-Roudloh yang berlokasi di Desa Sidodadi, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Malang, terus menunjukkan perkembangan pesat sejak berdiri pada 2021. Di bawah kepemimpinan Ketua Yayasan sekaligus Pengasuh, Ali Fasha, S.Ag., M.Pd., atau yang akrab disapa Gus Ali, pesantren berbasis SMK ini kini telah memiliki 260 siswa aktif dan resmi meluncurkan nomenklatur baru sebagai SMK Ar-Roudloh pada tahun 2026.
Saat berbincang santai di kediamannya, Selasa (17/02/2026), Gus Ali menceritakan perjalanan berdirinya pesantren dan sekolah tersebut. Ia menjelaskan bahwa cikal bakal Ar-Roudloh berawal dari Yayasan Al-Hikmah yang lebih dulu menaungi RA, MI, dan MTs.
“Setelah siswa kami lulus MTs, para wali murid meminta agar didirikan SMK. Karena lokasi Al-Hikmah berjarak sekitar 15 menit dari sini, maka pada 2021 kami mendirikan SMK sekaligus pesantren di Sidodadi sebagai bentuk penyegaran dan pengembangan,” ungkapnya.
SMK Ar-Roudloh sendiri merupakan hasil akuisisi dari SMK Merdeka Lawang yang kemudian dipindahkan ke Gedangan, Malang Selatan. Proses perubahan nama dan legalitas kini telah rampung sepenuhnya.
“Alhamdulillah, tahun ini resmi menjadi SMK Ar-Roudloh. Semua perizinan sudah selesai, termasuk NSPP pesantren. Tahun ini kita launching secara penuh,” tegas Gus Ali.
SMK Ar-Roudloh memiliki tiga kompetensi keahlian utama, yakni:
Teknik Kendaraan Ringan (TKR),
Desain Komunikasi Visual (DKV),
Manajemen Perkantoran dan Layanan Bisnis.
Untuk jurusan Teknik Kendaraan Ringan, para siswa telah melaksanakan praktik kerja lapangan (PKL) di perusahaan karoseri bak truk Gunung Mas. Bahkan, 10 siswa telah terlibat langsung dalam proses pembuatan dan perakitan bak truk.
Sementara itu, jurusan DKV didukung tenaga pendidik yang telah memenuhi kualifikasi. Adapun siswa Manajemen Perkantoran menjalani PKL di berbagai instansi seperti kecamatan, polsek, KUA, puskesmas, hingga kantor desa.
“Kami ingin anak-anak desa punya kesempatan yang sama. Mereka harus bisa bersaing dengan anak kota. Yang membedakan hanya kemampuan,” ujar Gus Ali.
Salah satu keunggulan SMK Ar-Roudloh adalah sistem pendidikan gratis, termasuk fasilitas asrama pesantren tanpa dipungut biaya.
“Semua siswa gratis. Sekolah gratis, mondok juga gratis. Kami yakin setiap santri membawa rezekinya masing-masing. Tugas kami hanya memanajemen agar mereka menjadi anak-anak yang luar biasa,” katanya.
Pada tahun pertama berdiri (2021), jumlah siswa hanya 30 orang. Kini, di tahun 2026, total siswa dalam Dapodik telah mencapai 260 orang, dengan 55 siswa inden untuk tahun ajaran baru.
Mayoritas siswa berasal dari wilayah Malang Selatan, khususnya Kecamatan Gedangan, Sumbermanjing, dan sekitarnya. Bahkan, beberapa santri datang dari luar daerah seperti Probolinggo dan Lampung.
Mengusung konsep sekolah alam (odor), suasana belajar di SMK Ar-Roudloh dibuat nyaman dan asri. Lingkungan yang luas dengan lahan wakaf seluas 11.000 meter persegi menjadi penunjang utama.
Nama “Ar-Roudloh” sendiri memiliki makna mendalam. Dalam tradisi Islam, Raudhah adalah taman surga yang berada di antara Mimbar dan Makam Rasulullah SAW di Masjid Nabawi, tempat yang diyakini mustajab untuk berdoa.
“Kami ingin tempat ini menjadi taman surga kecil bagi anak-anak. Tempat belajar, berdoa, dan membangun masa depan,” tutur Gus Ali.
Visi pesantren adalah mencetak insan kamil yang bertakwa dan berbudi luhur, dengan keseimbangan dunia dan akhirat.
“Target kami jelas: pintar sekolah, pintar ngaji. Fiddunya hasanah wa fil akhirati hasanah,” tambahnya.
Perkembangan Ar-Roudloh juga mendapat dukungan dari berbagai pihak, baik legislatif maupun eksekutif. Beberapa anggota DPRD Kabupaten Malang, DPRD Provinsi Jawa Timur, hingga tokoh nasional disebut turut memberikan dukungan dalam bentuk pokok pikiran (pokir) dan rencana hibah pembangunan.
Tahun ini, sekolah telah lolos verifikasi bantuan pembangunan senilai Rp1,7 miliar dari pemerintah pusat. Selain itu, direncanakan hibah Rp500 juta dari tingkat provinsi pada 2027 untuk pengembangan SMK.
Saat ini, tenaga pendidik berjumlah 22 orang, dengan 80 persen berasal dari wilayah sekitar. Enam di antaranya telah tersertifikasi dan lulus Pendidikan Profesi Guru (PPG).
Tak hanya fokus pada pendidikan lokal, SMK Ar-Roudloh juga membuka peluang kerja dan magang luar negeri. Beberapa kerja sama telah dijalin, antara lain dengan Universitas Kepanjen untuk program magang ke Taiwan, LPK Insan Mulia untuk Jepang, hingga peluang kerja ke Turki.
“Kami siapkan anak-anak untuk bekerja di dalam negeri, luar negeri, atau berwirausaha. Tinggal mereka memilih jalannya,” jelas Gus Ali.
Di akhir wawancara, Gus Ali berpesan kepada para guru agar mengajar dengan ikhlas dan penuh semangat.
“Rezeki dari Allah pasti datang sesuai pengorbanan kita,” ujarnya.
Sementara untuk para santri, ia menekankan pentingnya ilmu sebagai kunci masa depan.
“Belajarlah dengan sungguh-sungguh. Hanya dengan ilmu, cita-cita akan tercapai,” pesannya.
Dengan dukungan masyarakat yang kuat—bahkan disebut 90 persen lulusan SMP dan MTs di Sidodadi melanjutkan ke Ar-Roudloh—pesantren dan SMK ini diharapkan menjadi pusat pendidikan unggulan di Malang Selatan.
“Harapan kami, anak-anak desa tidak lagi tertinggal. Mereka harus siap bersaing, berakhlak, dan berprestasi,” pungkas Gus Ali.
Reporter : Matnadir
Editor : Redaksi










