KabarPojokIndonesia.com -- MALANG – Saat diwawancarai oleh media Kabar Pojok Indonesia di ruang kerjanya, Jl. Raya Singosari No.1, Losari, Candirenggo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Rabu (25/02/2026) pagi, Kepala Sekolah SMP Negeri 1 Singosari, Hj. Ana Purwati, S.Pd., M.Pd., menegaskan komitmennya dalam membangun karakter religius siswa melalui program mengaji dan sholat berjamaah.
Ia menyampaikan bahwa kegiatan sholat dhuhur berjamaah dilaksanakan setiap hari, kecuali hari Sabtu. Kegiatan tersebut diawali dengan mengaji bersama, kemudian dilanjutkan dengan sholat dhuhur berjamaah secara serentak oleh seluruh siswa dan guru.
“Sholat dhuhur berjamaah serentak dilakukan setiap hari, kecuali hari Sabtu. Usai ngaji dilanjut sholat dhuhur berjamaah. Ini sudah menjadi budaya sekolah,” ujarnya.
Menurut Ana Purwati, program pembiasaan mengaji bukanlah hal baru. Jauh sebelum adanya kebijakan dari pimpinan daerah, ia telah lebih dulu menggagas program Gerakan Melek Huruf Hijaiyah (GMHH) saat masih bertugas di Kecamatan Dau.
Program tersebut bahkan pernah dipresentasikan dalam ajang Lomba Panji-Panji Pendidikan dan berhasil membawa Kecamatan Dau masuk babak final berkat inovasi pendidikan berbasis religius tersebut.
“Sebagai seorang Muslim, harus bisa membaca Al-Qur’an. Mengaji itu pahalanya luar biasa. Karena itu saya wajibkan. Bahkan dulu saya pernah menyampaikan, siswa tidak akan lulus jika belum bisa ngaji,” tegasnya.
Di SMPN 1 Singosari, kemampuan membaca Al-Qur’an menjadi perhatian serius. Minimal siswa mampu mengenal dan membaca huruf hijaiyah dengan baik.
“Paling tidak dia tahu huruf alif itu seperti apa. Itu saja sudah langkah awal yang baik,” katanya.
Dalam pelaksanaannya, siswa yang belum lancar membaca Al-Qur’an dikelompokkan secara khusus. Mereka mendapatkan pembinaan tambahan melalui kegiatan ekstrakurikuler rohani (ekskul keagamaan) yang dibimbing oleh guru internal sekolah dan ustaz pendamping.
Siswa yang belum memenuhi standar kemampuan membaca Al-Qur’an akan mendapatkan pembinaan intensif hingga mampu mencapai kompetensi dasar yang ditetapkan.
Ana menjelaskan, sekolah telah menyusun kriteria dan tahapan pembelajaran yang jelas. Setelah dilakukan pembinaan awal oleh guru internal, selanjutnya siswa dibimbing oleh guru ekstrakurikuler keagamaan.
“Mayoritas siswa di sini sudah bisa membaca Al-Qur’an. Insya Allah semuanya bisa menyesuaikan. Kalau ada yang belum, kita bina sampai bisa,” jelasnya.
Menurutnya, program ini bukan sekadar kewajiban formal, melainkan upaya membentuk karakter religius dan menanamkan nilai spiritual sejak dini. Ia juga mendorong siswa yang memiliki kemampuan lebih untuk menjadi contoh dan menginspirasi teman-temannya.
Dengan pembiasaan mengaji dan sholat berjamaah yang konsisten, SMP Negeri 1 Singosari berharap dapat mencetak generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga kuat dalam nilai-nilai keagamaan dan akhlak.
Reporter : Matnadir
Editor : Redaksi



