Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Pelepasan dan Wisuda Bersama Yayasan Shirothul Fuqoha’ 2026, Cetak Generasi Qur’ani Berakhlak dan Berprestasi

Sabtu, 23 Mei 2026 | Mei 23, 2026 WIB Last Updated 2026-05-23T07:57:29Z

KabarPojokIndonesia.com
-- MALANG – Suasana khidmat dan penuh haru mewarnai kegiatan Pelepasan dan Wisuda Bersama Yayasan Shirothul Fuqoha’ Tahun 2026 yang digelar di halaman MTs Shirothul Fuqoha’, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang, Sabtu (23/05/2026) pagi. Kegiatan tersebut menjadi momentum penting bagi ratusan siswa-siswi yang telah menyelesaikan pendidikan formal maupun pendidikan pesantren di bawah naungan Yayasan Shirothul Fuqoha’.

Acara berlangsung meriah dengan dihadiri para wali santri, dewan guru, tokoh masyarakat, alumni, serta sejumlah tamu undangan. Doa dan harapan terbaik turut dipanjatkan agar Yayasan Shirothul Fuqoha’ senantiasa diberikan keberkahan, kemajuan, serta terus melahirkan generasi-generasi Qur’ani yang mampu membawa manfaat bagi umat, bangsa, dan negara.

Pondok Pesantren Shirothul Fuqoha’ sendiri merupakan salah satu pesantren yang cukup dikenal di wilayah Gondanglegi. Pondok tersebut didirikan oleh almarhum KH. Damiri yang berasal dari Jombang. Karena tidak memiliki keturunan, estafet perjuangan pesantren kemudian diteruskan oleh keponakannya, almarhum KH. Moh. Dahlan. Hingga saat ini, pengasuhan pesantren dilanjutkan oleh Bu Nyai Hj. Siti Zulfa.

Dalam kesempatan wawancara, Khodimul Ma’had KH. Syamsul Mu’in menjelaskan bahwa kegiatan wisuda merupakan agenda rutin tahunan yang selalu dilaksanakan oleh yayasan.

“Wisuda ini memang kegiatan tahunan. Karena di bawah naungan yayasan pesantren terdapat beberapa lembaga formal seperti SMK, SMA, dan MTs. Waktunya menyesuaikan dengan kegiatan pesantren,” ujarnya.

Ia menyebut jumlah siswa-siswi yang diwisuda tahun ini mencapai kurang lebih 400 peserta yang berasal dari berbagai jenjang pendidikan di bawah yayasan tersebut.

“Kurang lebih ada 400 siswa yang diwisuda dari tiga lembaga formal itu,” jelasnya.
Menurut KH. Syamsul Mu’in, santri di Yayasan Shirothul Fuqoha’ tidak hanya berasal dari Kabupaten Malang, namun juga ada yang datang dari luar daerah, meskipun jumlahnya masih minoritas.

“Ada yang dari luar kota, walaupun memang minoritas. Justru itu menjadi motivasi bagi santri yang dari sekitar Malang sendiri. Kadang santri luar kota prestasinya bagus, sehingga bisa memotivasi santri lainnya,” tuturnya.

Ia menegaskan bahwa keberadaan pendidikan formal di lingkungan pesantren bukan menjadi tujuan utama, melainkan sebagai sarana penunjang pendidikan pesantren.

“Abah dulu mendirikan formal itu karena banyak alumni yang meminta. Tapi pesantren tetap menjadi tujuan utama. Formal itu hanya wasilah atau perantara. Pondok pesantren tetap inti utamanya,” katanya.

Pondok Pesantren Shirothul Fuqoha’ yang kini diperkirakan telah berdiri selama kurang lebih 70 tahun itu terus berkembang dari waktu ke waktu. Saat ini jumlah santri mukim mencapai sekitar 1.350 santri, sedangkan santri nonmukim berkisar hampir 300 orang.
“Kalau yang mukim sekitar 1.350 santri, sedangkan nonmukim hampir 300,” ungkapnya.

Dalam pesannya kepada para wisudawan dan wisudawati, KH. Syamsul Mu’in menekankan bahwa wisuda bukanlah akhir dari proses belajar, melainkan awal untuk terus memperbaiki diri dan memperluas ilmu pengetahuan.

“Wisuda ini bukan akhir dari belajar. Justru mulai sekarang harus terus membenahi diri dan memiliki jiwa sebagai pembimbing, baik untuk dirinya sendiri, keluarga, maupun masyarakat,” pesannya.

Ia juga menyoroti kondisi pergaulan bebas dan perkembangan media sosial yang semakin tidak terbendung. Karena itu, menurutnya pesantren masih menjadi tempat terbaik untuk membangun karakter dan masa depan generasi muda.

“Melihat keadaan di luar yang semakin bebas, mayoritas wali santri mengarahkan putra-putrinya tetap di pesantren. Karena pesantren menjadi salah satu tempat yang memberikan keamanan dalam membangun masa depan,” tegasnya.

KH. Syamsul Mu’in juga menjelaskan bahwa Pondok Pesantren Shirothul Fuqoha’ memiliki sanad keilmuan yang tersambung dengan sejumlah pesantren besar di Jawa Timur, seperti Tebuireng dan Lirboyo.
“Kalau sambung keilmuannya, di sini tersambung ke Tebuireng dan Lirboyo. Muassis pertama KH. Damiri asli Jombang, begitu juga KH. Moh. Dahlan. Mereka yang mengembangkan pondok ini hingga sekarang,” terangnya.

Ia menambahkan, saat ini pengembangan pesantren terus dilanjutkan oleh Bu Nyai Hj. Siti Zulfa bersama keluarga besar pesantren dan para pengurus.

Dalam kegiatan tersebut, turut hadir Wakil Bupati Malang yang memberikan dukungan serta motivasi kepada para siswa dan wali santri. Kehadiran Wakil Bupati disambut hangat oleh keluarga besar pesantren.

“Alhamdulillah sangat senang sekali dengan kehadiran beliau. Apa yang disampaikan tadi tidak hanya memotivasi siswa, tetapi juga wali santri,” pungkas KH. Syamsul Mu’in.

Dengan semangat menjaga tradisi keilmuan dan nilai-nilai pesantren, Yayasan Shirothul Fuqoha’ diharapkan terus menjadi lembaga pendidikan Islam yang mampu mencetak generasi unggul, berakhlakul karimah, serta siap menghadapi tantangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai agama.

REPORTER : Matnadir 

EDITOR : Redaksi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update