Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Konferensi VIII MWCNU Karangploso Berlangsung Demokratis, Gus Nahdlil Khoir Kembali Pimpin Tanfidziyah

Minggu, 17 Mei 2026 | Mei 17, 2026 WIB Last Updated 2026-05-17T08:35:20Z

KabarPojokIndonesia.com
-- MALANG – Konferensi VIII Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang berlangsung khidmat dan penuh semangat kebersamaan di Aula H.M. Thohir Shodiq Kantor MWCNU Karangploso, Minggu (17/05/2025).

Kegiatan tersebut menjadi momentum penting bagi warga Nahdliyin di Kecamatan Karangploso dalam menentukan arah kepengurusan organisasi ke depan. Konferensi dihadiri para pengurus ranting, tokoh agama, kiai, banom NU, serta para kader Nahdlatul Ulama dari berbagai desa di wilayah Karangploso.

Dalam proses pemilihan kepengurusan, mekanisme dilakukan secara demokratis melalui pemungutan suara, di mana setiap ranting memiliki hak satu suara untuk menentukan kepemimpinan MWCNU Karangploso periode selanjutnya.

Hasil konferensi menetapkan kembali Gus Nahdlil Khoir sebagai Ketua Tanfidziyah MWCNU Kecamatan Karangploso. Ia merupakan pengasuh Pondok Pesantren PPAI Annahdliyah, Desa Kepuharjo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang.

Saat diwawancarai awak media Kabar Pojok Indonesia, Gus Nahdlil Khoir menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas suksesnya pelaksanaan konferensi yang berjalan dengan baik dan penuh semangat persaudaraan.

“Yang pertama kami ucapkan terima kasih atas suksesnya acara konferensi MWCNU Karangploso ini secara demokratis dan dinamis. Tentunya ini adalah sebuah konferensi yang memiliki giroh dan semangat besar untuk kemajuan Nahdlatul Ulama di Kecamatan Karangploso,” ujarnya.

Ia menegaskan, program utama kepengurusan ke depan akan difokuskan pada penguatan ukhuwah atau persaudaraan di tengah masyarakat Nahdliyin.

“Program-programnya tentunya yaitu memperkuat ukhuwah Nahdliyah. Nantinya dapat memberikan kontribusi pemikiran-pemikiran bagaimana Nahdlatul Ulama semakin berkembang, baik dalam ukhuwah Nahdliyah, ukhuwah basyariyah maupun ukhuwah wathaniyah,” jelasnya.

Menurutnya, kekuatan organisasi harus dibangun melalui kualitas sumber daya manusia sekaligus soliditas jamaah. “Kalau kita sudah kuat, maka menjalankan program-program apa pun akan lebih mudah. Kita harus kuat secara kualitas maupun kuantitas,” tambahnya.

Gus Nahdlil Khoir juga menyampaikan harapannya agar NU di Karangploso mampu menjadi wadah pemberdayaan umat dan terus memberikan manfaat luas bagi masyarakat.

“Harapannya ke depan yaitu umat semakin berdaya dan Nahdlatul Ulama semakin hadir untuk masyarakat,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Gus Nahdlil Khoir mengungkapkan bahwa dirinya kembali dipercaya memimpin MWCNU Karangploso untuk periode kedua.
“Ini periode kedua. Sebelumnya saya pernah memimpin pada periode 2001-2006. Alhamdulillah, kali ini kembali diberikan amanah untuk memimpin MWCNU Karangploso,” tuturnya.

Selain pemilihan Ketua Tanfidziyah, konferensi juga menetapkan K.H. Ahmad Lutfi Al-Hakim sebagai Rais Syuriyah MWCNU Karangploso. Beliau dikenal sebagai pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda atau yang juga dikenal dengan PP Mambaul Huda.

Dalam keterangannya, K.H. Ahmad Lutfi Al-Hakim menegaskan pentingnya berkhidmat dan berjuang melalui Nahdlatul Ulama sesuai garis perjuangan para ulama terdahulu.

“Bismillahirrahmanirrahim. Kita berkhidmat dan berjuang melalui Nahdlatul Ulama sesuai dengan garis yang telah ditetapkan oleh para ulama dan para awliya terdahulu, sehingga Nahdlatul Ulama tetap mempunyai keistimewaan lahir dan batin di hati umat,” ungkapnya.

Ia berharap kepengurusan yang baru mampu membawa kemaslahatan bagi masyarakat, khususnya warga Nahdliyin, baik dalam urusan duniawi maupun ukhrawi.

“Harapan kami sebagai pengurus adalah berkhidmat melalui Nahdlatul Ulama untuk kemaslahatan umat, khususnya warga Nahdliyin. Baik keselamatan yang bersifat duniawi seperti pemberdayaan ekonomi, maupun yang terpenting keselamatan di akhirat nanti,” tandasnya.

Konferensi VIII MWCNU Karangploso tersebut berlangsung dengan lancar, penuh kekeluargaan, dan menjadi simbol kuatnya semangat persatuan warga Nahdlatul Ulama dalam menjaga tradisi, dakwah, serta pengabdian kepada umat dan bangsa.

REPORTER : Matnadir 

EDITOR : Redaksi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update