KabarPojokIndonesia.com -- MALANG, — Seorang petani jeruk asal Desa Pandansari, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, Supriyanto, mengungkapkan berbagai tantangan yang dihadapi petani jeruk di wilayahnya. Dalam keterangannya pada Jumat (03/04/2026), ia menyebut bahwa meski komoditas jeruk tergolong menguntungkan, tetap ada sejumlah persoalan yang kerap menghantui para petani.
Menurut Supriyanto, tanaman jeruk menjadi salah satu komoditas yang paling menjanjikan dibandingkan tanaman lain. Selain hasilnya yang cukup tinggi, perawatannya juga tidak terlalu menguras tenaga kerja seperti halnya tanaman sayuran.
“Kalau jeruk itu, di antara tanaman lain, termasuk yang paling menghasilkan. Tenaganya juga tidak terlalu banyak seperti sayur,” ujarnya.
Namun demikian, ia menjelaskan bahwa tantangan terbesar justru muncul saat tanaman belum memasuki masa panen. Biaya perawatan seperti pupuk kimia, pupuk kandang, hingga obat-obatan terus meningkat setiap tahunnya.
“Setiap tahun biaya itu pasti naik, baik pupuk maupun obat. Memang kadang turun, tapi tidak lama, kemudian naik lagi,” jelasnya.
Dari sisi harga jual, Supriyanto menyebut fluktuasi harga jeruk cukup terasa. Ia mengatakan bahwa harga cenderung rendah pada pertengahan tahun, khususnya sekitar bulan Juni hingga Juli, dan mulai meningkat saat memasuki bulan Agustus.
“Kalau harga itu naik turun. Biasanya bulan 6-7 murah, nanti masuk bulan 8 baru mulai naik,” katanya.
Saat ini, Supriyanto mengelola lahan jeruk seluas sekitar 4 hektare dengan jumlah pohon lebih dari 500. Dalam kondisi optimal, satu pohon bisa menghasilkan sekitar 50 kilogram buah, sehingga total produksi dapat mencapai kurang lebih 25 ton per tahun.
“Kalau pohonnya umur sekitar 4 tahun dan perawatannya maksimal, satu pohon bisa 50 kilo. Jadi total bisa sekitar 25 ton,” paparnya.
Meski secara hitungan produksi mampu menutup biaya bahkan menghasilkan keuntungan, Supriyanto menegaskan bahwa perawatan tetap menjadi kunci utama. Tanpa perawatan yang baik, petani justru berisiko mengalami kerugian.
“Kalau tidak dirawat, malah rugi. Tapi kalau dirawat maksimal, insyaallah masih untung,” tambahnya.
Selain persoalan biaya dan harga, Supriyanto juga mengeluhkan maraknya pencurian hasil kebun yang kerap terjadi, terutama menjelang masa panen. Ia mengaku telah beberapa kali menjadi korban pencurian dalam beberapa tahun terakhir.
“Sudah tiga kali kejadian. Dua bulan lalu dan yang terakhir kemarin menjelang Lebaran,” ungkapnya.
Dalam satu kejadian, kerugian yang dialaminya diperkirakan mencapai lebih dari 500 kilogram jeruk atau setara sekitar Rp12 juta.
“Kalau ditotal bisa lebih dari setengah ton yang hilang. Itu jelas merugikan,” katanya.
Ia menyebut bahwa pencurian hasil kebun bukan hanya dialaminya, tetapi juga cukup marak di wilayah Poncokusumo. Namun, banyak petani memilih untuk tidak melaporkan kejadian tersebut.
“Banyak yang diam. Biasanya karena pelakunya itu orang yang dikenal, jadi sungkan. Ada juga yang takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” jelasnya.
Padahal, menurutnya, sebagian besar petani sebenarnya mengetahui siapa pelaku pencurian tersebut. Namun karena berbagai pertimbangan sosial, kasus tersebut seringkali tidak dilanjutkan ke ranah hukum.
Meski demikian, Supriyanto berencana melaporkan kejadian terbaru yang dialaminya ke pihak kepolisian setempat.
“Hari ini rencana mau laporan ke Polsek,” ujarnya.
Ia berharap pemerintah desa, aparat penegak hukum, serta tokoh masyarakat dapat memberikan perhatian lebih terhadap nasib petani, khususnya dalam hal perlindungan keamanan.
“Petani itu merawat tanaman dengan susah payah, niatnya untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Kadang juga modalnya dari pinjaman bank. Kalau pas panen malah dicuri, jelas sangat berat,” tuturnya.
Di akhir pernyataannya, Supriyanto berharap agar kejadian serupa tidak terus berulang dan para pelaku pencurian dapat menyadari dampak perbuatannya.
“Harapannya ya, pelaku bisa tobat. Dan pemerintah bisa memberi perlindungan kepada petani,” pungkasnya.
Reporter : Tim
Editor : Redaksi



