Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Gus Masyfu’ Zuhdi Ungkap Sejarah Halalbihalal dan Filosofi Ketupat sebagai Simbol Persatuan

Selasa, 31 Maret 2026 | Maret 31, 2026 WIB Last Updated 2026-03-31T14:09:32Z

KabarPojokIndonesia.com
-- MALANG – Tradisi halalbihalal yang selama ini menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Idulfitri di Indonesia, ternyata memiliki akar sejarah yang kuat dalam upaya merajut persatuan bangsa. 

Hal tersebut disampaikan oleh Gus Masyfu’ Zuhdi, Dewan Pengasuh Pondok Pesantren (PP) PPAI Salafiyah Darun Najah, saat diwawancarai media Kabar Pojok Indonesia di lingkungan pesantren yang beralamat di Jl. Pesantren No. 51, Desa Ngijo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang, Selasa (31/03/2026) malam.

Gus Masyfu’, sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa halalbihalal bukan sekadar tradisi seremonial pasca-Lebaran, melainkan lahir dari kebutuhan besar bangsa Indonesia untuk menyatukan perbedaan, khususnya di kalangan elite politik pada masa awal kemerdekaan.

“Kalau melihat sejarahnya, halalbihalal itu muncul ketika situasi politik sedang tidak kondusif. Banyak kelompok dan partai yang saling berselisih, saling tuduh, bahkan sulit untuk duduk bersama,” ungkapnya.

Ia menuturkan, dalam situasi tersebut, Presiden Soekarno mencari jalan keluar agar para tokoh bangsa dapat kembali bersatu. Atas usulan tersebut, KH Abdul Wahab Chasbullah kemudian menggagas sebuah forum yang dinamakan halalbihalal.

“Tujuannya sederhana tapi sangat penting, yaitu mempertemukan para tokoh politik agar bisa bermusyawarah, menyatukan suara, dan kembali menjalin silaturahmi,” jelas Gus Masyfu’.

Tradisi ini pertama kali digelar di Istana Negara sekitar tahun 1948, dan sejak saat itu berkembang menjadi budaya nasional yang terus dilestarikan hingga sekarang. Menurutnya, halalbihalal merupakan tradisi khas Indonesia yang tidak ditemukan di negara lain.

“Hanya di Indonesia ada istilah halalbihalal. Ini menjadi ciri khas bangsa kita dalam menyelesaikan persoalan dengan cara damai dan penuh kekeluargaan,” tegasnya.

Lebih lanjut, Gus Masyfu’ juga mengupas makna filosofis dari makanan khas Lebaran seperti ketupat, lepet, dan lontong yang kerap hadir dalam tradisi halalbihalal.
Ia menjelaskan bahwa ketupat memiliki makna mendalam yang berasal dari nilai-nilai keislaman, yakni sebagai simbol menjaga kesucian dan mengakui kesalahan.

“Ketupat itu bukan sekadar makanan. Bentuknya yang teranyam melambangkan kebersamaan, jangan sampai kita terpecah hanya karena perbedaan,” ujarnya.

Sementara itu, lepet dimaknai sebagai simbol eratnya tali persaudaraan. “Lepet itu dari kata ‘lufun’ yang berarti ikatan. Maknanya agar persaudaraan tetap terikat kuat,” tambahnya.

Adapun lontong, lanjutnya, menggambarkan harapan untuk meraih kebersamaan dalam keberagaman. “Meski berbeda-beda, tetap satu. Seperti pelangi, justru indah karena beragam,” tuturnya.

Melalui penjelasan tersebut, Gus Masyfu’ berharap masyarakat tidak hanya menjalankan tradisi halalbihalal sebagai rutinitas tahunan, tetapi juga memahami nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya.

“Intinya adalah persatuan. Jangan terpecah karena perbedaan, justru dari perbedaan itulah kita bisa saling melengkapi,” pungkasnya.

Reporter : Matnadir 

Editor : Redaksi
TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update