Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Puluhan Tahun Terbengkalai, Jembatan Ambrol di Sungai Metro Jadi Penumpukan Sampah, Kades Kebonagung Minta Pemerintah Bertindak

Rabu, 10 Juni 2026 | Juni 10, 2026 WIB Last Updated 2026-06-10T11:20:48Z

KabarPojokIndonesia.com
-- MALANG – Keberadaan sisa bangunan jembatan yang ambrol puluhan tahun lalu di bawah Jembatan Gantung Sitirejo–Kebonagung kembali menjadi sorotan masyarakat. Bangunan yang hingga kini masih berada di aliran Sungai Metro tersebut dinilai mengganggu kelancaran arus air dan berpotensi menimbulkan masalah lingkungan, terutama saat musim hujan.

Saat diwawancarai Media Kabar Pojok Indonesia di ruang kerjanya pada Rabu (10/06/2026), Kepala Desa Kebonagung, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang, Teguh Santosa, menjelaskan bahwa jembatan yang runtuh tersebut merupakan jembatan lama yang pernah dibangun dan digunakan dalam waktu singkat sebelum akhirnya mengalami kerusakan.

Menurut Teguh Santosa, lokasi yang dimaksud berada tepat di bawah Jembatan Gantung Sitirejo–Kebonagung yang menghubungkan Desa Kebonagung, Kecamatan Pakisaji dengan Desa Sitirejo, Kecamatan Wagir, melintasi Sungai Metro di kawasan dekat Pabrik Gula (PG) Kebonagung.

"Jembatan itu dulu dibangun, belum lama digunakan kemudian ambruk lagi. Bangunannya turun ke aliran Sungai Metro dan sampai sekarang belum pernah diangkat ataupun dibersihkan," ujar Teguh Santosa.

Ia menjelaskan bahwa setelah jembatan lama tersebut ambruk, pemerintah kemudian membangun jembatan pengganti yang saat ini masih berfungsi dengan baik dan digunakan masyarakat tanpa kendala berarti.

"Jembatan yang sekarang dipakai tidak ada masalah. Yang menjadi persoalan adalah sisa bangunan jembatan yang runtuh itu masih berada di bawah dan belum dibersihkan sampai sekarang," katanya.

Teguh menilai keberadaan material bekas jembatan yang ambruk tersebut berpotensi menghambat aliran air sungai. Selain itu, struktur yang masih berada di sungai juga menjadi tempat menumpuknya sampah yang terbawa arus maupun sampah yang dibuang oleh oknum dari atas jembatan.

"Karena masih ada bangunan yang menghalangi aliran air, banyak sampah tersangkut di sana. Bahkan ada juga yang membuang sampah dari atas jembatan sehingga kondisinya terlihat sangat kotor dan kurang terawat," ungkapnya.

Lebih lanjut, Teguh berharap instansi terkait segera mengambil langkah konkret untuk membersihkan lokasi tersebut demi menjaga kebersihan lingkungan dan mencegah potensi gangguan terhadap aliran Sungai Metro.

"Saya berharap pemerintah atau pihak yang berwenang bisa membersihkan dan mengangkat sisa bangunan jembatan yang ambruk itu, sehingga kawasan tersebut terlihat lebih rapi, bersih dan tertib," tegasnya.

Lokasi jembatan tersebut berada di wilayah perbatasan tiga desa, yakni Desa Kebonagung, Desa Sitirejo, dan Desa Mendalanwangi, yang sekaligus menjadi pertemuan wilayah Kecamatan Pakisaji dan Kecamatan Wagir.

Karena itu, menurutnya, penanganan persoalan tersebut memerlukan perhatian dari pemerintah yang memiliki kewenangan, baik tingkat kabupaten maupun provinsi.

"Masyarakat tidak tahu persis itu menjadi kewenangan siapa, apakah PU, Dinas SDA atau instansi lainnya. Yang jelas harapan kami, baik pemerintah kabupaten maupun provinsi dapat memperhatikan kondisi tersebut," ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa apabila material jembatan yang runtuh terus dibiarkan, dikhawatirkan dapat memperbesar risiko terjadinya penyumbatan aliran sungai saat debit air meningkat.

"Yang kami khawatirkan ketika hujan deras dan arus sungai besar, sampah akan semakin banyak tersangkut sehingga menghambat aliran air. Jangan sampai nantinya menimbulkan banjir atau luapan air ke area sekitar," tambahnya.

Sementara itu, tim Media Kabar Pojok Indonesia yang melakukan penelusuran langsung ke lokasi mendapatkan keterangan dari salah seorang pejalan kaki yang mengaku sebagai warga Desa Kebonagung.

Warga tersebut membenarkan bahwa sisa bangunan jembatan yang ambruk itu telah berada di lokasi selama puluhan tahun dan hingga kini belum pernah dilakukan pengangkatan.

"Sudah puluhan tahun kondisinya seperti itu. Sampai sekarang masih ada di bawah jembatan dan belum diambil," ujar warga yang enggan disebutkan namanya.

Menurutnya, ketika musim hujan tiba, tumpukan sampah sering kali tersangkut pada material bekas jembatan tersebut sehingga mengganggu kelancaran aliran Sungai Metro.

"Kebanyakan saat hujan, sampah-sampah dari hulu nyangkut di situ. Kalau tidak segera dibersihkan, bisa membuat aliran sungai tersumbat," katanya.

Masyarakat berharap adanya perhatian serius dari pemerintah dan instansi terkait untuk melakukan pembersihan serta normalisasi di area tersebut. Selain menjaga kebersihan lingkungan, langkah tersebut juga dinilai penting untuk mengantisipasi potensi banjir dan menjaga keselamatan masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran Sungai Metro.

(Dir/Red)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update