Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

OJK Luncurkan ERP dan Keuangan Inklusif di KAN Jabung, Harapan Baru Kebangkitan Peternak Sapi Perah Pasca PMK

Kamis, 11 Juni 2026 | Juni 11, 2026 WIB Last Updated 2026-06-11T14:27:30Z

KabarPojokIndonesia.com
-- MALANG – Upaya memperkuat ketahanan sektor peternakan sapi perah nasional terus dilakukan melalui transformasi digital dan perluasan akses pembiayaan. Hal tersebut ditandai dengan Peluncuran Sistem Enterprise Resource Planning (ERP) dan Akses Keuangan Inklusif untuk Sektor Sapi Perah di Jawa Timur yang digelar di halaman Kantor Koperasi Agro Niaga (KAN) Jabung, Kabupaten Malang, Kamis (11/6/2026) siang.

Kegiatan strategis tersebut dihadiri sejumlah pejabat penting dari dalam dan luar negeri, di antaranya Ambassador of Switzerland Mr. Olivier Zehnder, Anggota Dewan Komisioner OJK RI Adi Budiarso, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur Adhy Karyono, Deputi Bidang Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Kemenko PM) Leontinus Alpha Edison, Plh Kepala OJK Provinsi Jawa Timur, Bupati Malang, serta Presiden Direktur Koperasi Agro Niaga (KAN) Jabung Syariah Jawa Timur Eva Marliyanti.

Peluncuran Enterprise Resource Planning (ERP) merupakan bagian dari Program Digitalisasi Ekosistem Sapi Perah yang diinisiasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Program ini menjadi langkah nyata dalam memperkuat ekosistem pembiayaan sektor peternakan melalui pemanfaatan teknologi digital, sekaligus memperluas inklusi keuangan bagi pelaku UMKM yang bergerak di sektor peternakan sapi perah.


Program tersebut mengusung pendekatan ekosistem rantai nilai (value chain) yang memungkinkan seluruh proses usaha peternakan, mulai dari produksi, distribusi, hingga pembiayaan dapat terintegrasi dalam satu sistem digital yang lebih transparan, efisien, dan akuntabel.

Dalam sambutannya, Presiden Direktur KAN Jabung Eva Marliyanti menyampaikan rasa syukur dan apresiasinya atas dukungan berbagai pihak yang selama ini turut membantu pengembangan koperasi dan peternak sapi perah di Kabupaten Malang.
Eva mengenang perjuangan KAN Jabung sekitar tujuh tahun lalu saat menginisiasi program penyediaan air bersih dari Desa Taji menuju wilayah yang mengalami kekeringan.

"Kami masih ingat tujuh tahun yang lalu ketika membawa konsep pengaliran air dari Desa Taji. Saat itu banyak pihak yang meragukan bahwa air bisa dialirkan sejauh 27 kilometer menuju wilayah yang membutuhkan. Namun ada satu pemimpin yang percaya bahwa kami mampu melakukannya. 


Alhamdulillah, tiga minggu yang lalu air tersebut akhirnya sampai di wilayah tujuan," ungkap Eva.

Menurutnya, keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa kolaborasi dan kepercayaan merupakan modal utama dalam membangun kesejahteraan masyarakat desa.

Eva juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh mitra strategis KAN Jabung, mulai dari Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI), industri pengolahan susu, lembaga perbankan, lembaga keuangan, hingga para investor yang selama ini menjadi bagian penting dalam pengembangan peternakan sapi perah.


"Kehadiran Bapak-Ibu semua memberikan semangat baru bagi kami. Sebelumnya kami merasa perjuangan yang kami hadapi sangat berat, tetapi dengan dukungan dan kolaborasi yang terbangun hari ini, kami optimistis berbagai hambatan yang ada dapat diatasi bersama," katanya.

Eva menjelaskan bahwa KAN Jabung saat ini merupakan koperasi produsen yang beranggotakan sekitar 2.300 peternak sapi perah dan petani tebu. Sebagai koperasi produsen, tujuan utama organisasi adalah meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan anggota melalui berbagai program pemberdayaan.

Menurutnya, terdapat dua proses utama yang selama ini dijalankan KAN Jabung. Pertama, sebagai community enabler, koperasi berupaya mengidentifikasi seluruh kebutuhan anggota mulai dari penyediaan pakan, sarana produksi, pendampingan usaha hingga akses pembiayaan. 

Kedua, sebagai community empowerment, koperasi aktif memberikan pelatihan, pengenalan teknologi, peningkatan keterampilan, serta berbagai program pengembangan kapasitas agar peternak mampu meningkatkan skala usahanya.

"Kami berusaha menyediakan seluruh kebutuhan anggota, mulai dari input produksi, pakan, hingga pembiayaan. Sementara pada sisi pemberdayaan, kami melakukan transfer teknologi dan peningkatan kapasitas agar anggota bisa berkembang dan naik kelas," jelasnya.

Eva juga mengungkapkan bahwa sektor peternakan sapi perah sempat mengalami pukulan berat akibat wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada tahun 2022. Dampaknya sangat besar terhadap produktivitas dan populasi ternak.

Sebelum PMK, KAN Jabung mampu memproduksi sekitar 75 ton susu per hari dengan populasi ternak mencapai 11.500 ekor. Namun setelah wabah melanda, populasi turun drastis menjadi sekitar 7.500 ekor, sedangkan jumlah sapi produktif menyusut dari 7.500 ekor menjadi hanya sekitar 5.000 ekor.

Tak hanya itu, kondisi ekonomi anggota juga mengalami kemunduran signifikan. Sebelum PMK, sekitar 40 persen anggota tergolong peternak kecil, namun setelah wabah jumlahnya meningkat menjadi sekitar 80 persen.

"Kami mengalami kemunduran yang cukup besar. Banyak peternak kehilangan ternaknya dan kondisi usaha mereka menurun drastis. Karena itu kami harus melakukan perubahan strategi agar anggota bisa bangkit kembali," terang Eva.

Sebagai bentuk solusi, KAN Jabung mengembangkan berbagai model pembiayaan baru yang lebih fleksibel dan sesuai dengan kondisi peternak. Salah satunya adalah program pengadaan sapi berbasis kemitraan yang memungkinkan peternak memperoleh ternak dengan sistem pengembalian melalui hasil pengembangan usaha.

Program tersebut mendapat sambutan positif dari berbagai mitra dan investor yang bersedia terlibat dalam upaya pemulihan sektor peternakan sapi perah.

Menurut Eva, kebutuhan pembiayaan saat ini masih sangat besar. Pasca PMK, terdapat hampir 1.000 kandang kosong di wilayah anggota KAN Jabung yang membutuhkan pengisian kembali. Bahkan berdasarkan data Gabungan Koperasi Susu Indonesia, terdapat sekitar 100 ribu kandang kosong di Pulau Jawa yang memerlukan dukungan investasi dan pembiayaan.

"Ini menjadi semangat baru bagi kami. Dengan adanya program ERP dan akses keuangan inklusif yang diinisiasi OJK, kami berharap akses terhadap pembiayaan menjadi lebih mudah. Kami optimistis pengisian kembali kandang-kandang kosong serta peningkatan populasi sapi perah dapat berjalan lebih cepat," ujarnya.

Peluncuran ERP dan akses keuangan inklusif ini diharapkan menjadi tonggak penting dalam modernisasi sektor peternakan sapi perah Indonesia. 

Melalui integrasi teknologi digital, penguatan tata kelola koperasi, serta perluasan akses pembiayaan, sektor peternakan rakyat diharapkan mampu tumbuh lebih kuat, berdaya saing, dan berkontribusi terhadap ketahanan pangan nasional serta peningkatan kesejahteraan peternak di Jawa Timur dan Indonesia.

REPORTER : Matnadir 

EDITOR : Redaksi


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update