Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Upaya Digitalisasi Keris Yasan Enggal Masterpiece Empu Soekamdhi Dikerjakan Oleh TosanAji.id

Kamis, 28 Agustus 2025 | Agustus 28, 2025 WIB Last Updated 2025-08-28T14:31:16Z

KabarPojokIndonesia.com
-- Surakarta, 28 Agustus 2025 – Dalam rangka pelestarian budaya Tosan Aji Nusantara melalui teknologi modern, TosanAji.id resmi memulai program digitalisasi keris Yasan Enggal karya para empu dan pengrajin di Indonesia. Sebagai langkah awal, digitalisasi difokuskan pada karya-karya masterpiece Empu Soekamdhi (almarhum Mbah Kamdhi) yang telah diakui secara nasional.

Tahap pertama, TosanAji.id mendokumentasikan lima keris masterpiece Yasan Empu Soekamdhi, yaitu dhapur Gelombang Cinta, Pring Pethuk, Celangap, Sapto Tunggal, dan Bethok Jalak Sangu Tumpeng.

“Kami sudah mendapatkan izin dari para kolektor keris Yasan Enggal Empu Soekamdhi. Dhapur Gelombang Cinta dari koleksi Henny Priyadi, Bethok Jalak Sangu Tumpeng dari koleksi Warsito Supadmo, dan Pring Pethuk dari koleksi Heksa Fef Pria,” ungkap Wahyu Eko Setiawan, CEO


TosanAji.id, saat ditemui di Padepokan Tosan Aji Selo Gilang, Surakarta.
Dorongan Tokoh Perkerisan Nasional
Upaya digitalisasi ini sebelumnya telah didiskusikan dengan beberapa tokoh perkerisan nasional, di antaranya Warsito Supadmo, Benny Hatmantoro, Henny Priyadi, dan Heksa Fef Pria. 

Mereka menekankan pentingnya digitalisasi agar karya-karya masterpiece Mbah Kamdhi bisa menjadi inspirasi dan motivasi bagi para empu dan pengrajin di seluruh Indonesia untuk terus berkarya.

“Mbah Kamdhi bisa dijadikan inspirasi bagi para empu. Karya-karyanya bukan sekadar benda pusaka, tetapi lahir dari laku spiritual yang mendalam, bahkan memiliki kandungan supranatural yang unik dan otentik,” ujar Benny Hatmantoro yang dikenal dekat dengan almarhum Empu Soekamdhi.


Sementara itu, Warsito Supadmo, kolektor keris Bethok Jalak Sangu Tumpeng, menegaskan bahwa ciri khas karya Empu Soekamdhi adalah penggunaan material besi kelengan. Proses pembabarannya membutuhkan keahlian tinggi karena sedikit kesalahan bisa langsung terlihat pada hasilnya.

“Banyak keris di pasaran mengaku-ngaku karya Mbah Kamdhi. Padahal tidak semuanya asli. Kolektor harus hati-hati karena tidak semua karya beliau dilengkapi sertifikat dengan tanda tangan dan cap jempolnya,” tegas Warsito.

Harapan untuk Generasi Mendatang
Melalui digitalisasi ini, karya-karya Mbah Kamdhi diharapkan dapat terdokumentasi dengan baik dan menjadi referensi penting bagi generasi penerus. Selain itu, langkah ini sekaligus memperkuat literasi budaya Tosan Aji, serta mendorong empu dan pengrajin untuk terus melahirkan karya masterpiece yang berkualitas tinggi.

“Digitalisasi ini bukan sekadar dokumentasi, tapi upaya menjaga otentisitas karya Mbah Kamdhi agar tetap relevan dengan zaman dan bisa dinikmati oleh generasi mendatang,” pungkas Wahyu Eko Setiawan.

Reporter : Tim

Editor : Redaksi 
TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update