Musik tradisional, atraksi Bantengan dan aktivitas para pelaku seni mulai menghidupkan kawasan tersebut. Sejumlah peserta tampil dengan kostum khas kesenian tradisional, sementara masyarakat yang datang ikut menyaksikan jalannya Festival Bantengan Malang Raya.
Kegiatan yang berlangsung hingga 2 Oktober 2026 ini menjadi salah satu rangkaian peringatan HUT ke-81 Provinsi Jawa Timur dan HUT ke-112 Kota Malang.
Festival tersebut digelar oleh Divisi Event Media PROKOTA.COM bersama Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT), Jaranan Malang Raya (JMR), serta komunitas UMKM Malang Raya.
Salah satu perhatian dalam pembukaan malam itu adalah kehadiran KRA Dwi Indrotito Cahyono, S.H., M.M., yang mendapat undangan dari panitia untuk membuka kegiatan. Ia hadir bersama unsur DKJT dan pengurus Jaranan Malang Raya.
Bukan hanya sekadar pertunjukan, Festival Bantengan Malang Raya terlihat menjadi ruang pertemuan berbagai kalangan. Para pelaku seni mendapat panggung untuk menunjukkan kreativitasnya, sementara masyarakat bisa kembali menikmati kesenian tradisional yang tumbuh dan berkembang di tengah kehidupan warga.
Bantengan sendiri selama ini menjadi salah satu kesenian yang cukup lekat dengan masyarakat Malang Raya. Karakter pertunjukannya yang khas, mulai dari kostum, musik pengiring hingga gerakan para pemain, membuat kesenian ini tetap memiliki daya tarik tersendiri.
Di tengah perkembangan hiburan modern dan budaya digital, keberadaan festival seperti ini menjadi salah satu cara untuk membawa kesenian tradisional lebih dekat dengan generasi muda.
KRA Dwi Indrotito Cahyono menilai keberadaan ruang-ruang pertunjukan seperti Festival Bantengan Malang Raya penting bagi keberlangsungan seni tradisi.
Menurutnya, kesenian daerah bukan hanya peninggalan masa lalu, tetapi bagian dari identitas masyarakat yang perlu terus diperkenalkan dan dikembangkan.
“Yang penting bagaimana seni tradisi ini tetap hidup, dikenal anak-anak muda dan terus mendapat ruang di tengah perkembangan zaman,” ujar Dwi dalam keterangannya.
Sementara itu, Ketua Dewan Kesenian Jawa Timur, Dr. Ki Suroso, turut memberikan perhatian terhadap keberlangsungan kesenian tradisional yang berkembang di masyarakat.
Ia melihat festival seni dapat menjadi wadah bagi seniman maupun komunitas untuk terus berkarya sekaligus mempertemukan kesenian tradisional dengan masyarakat secara langsung.
Dari lokasi kegiatan, nuansa kebersamaan memang cukup terasa. Para pelaku seni tampak sibuk mempersiapkan penampilan, sementara warga menikmati rangkaian acara yang berlangsung hingga malam.
Festival Bantengan Malang Raya pun tidak hanya membawa pesan tentang pelestarian budaya. Keterlibatan komunitas UMKM juga memberikan warna tersendiri, karena kegiatan seni sekaligus membuka ruang bagi pelaku usaha lokal untuk memperkenalkan produk mereka kepada masyarakat.
Dengan rangkaian acara yang berlangsung selama tiga hari, festival ini diharapkan tidak berhenti sebagai pertunjukan sesaat. Lebih jauh, menjadi ruang bagi kesenian tradisional Malang Raya untuk terus tumbuh, beradaptasi dan tetap memiliki tempat di hati generasi berikutnya.
Pewarta : RD
Editor : Redaksi




Tidak ada komentar:
Posting Komentar